Ep. Mazmur 127 :
1 – 5
Ev. Yeremia : 7 –
9
Saudara….
Setiap orang pernah merasa putus asa !
hoplees, bahkan pernah mengalami suatu masa dimana merasa bahwa segala sesuatu
seolah olah tidak ada artinya: melakukan ini atau itu seolah olah sia sia,
mencari pertolangan kesana kemari seolah olah tidak ada yang akan menolong,
meminta kepada Tuhan seolah olah tidak di dengar. Apa yang harus di perbuat ?
→ cuex : tidak perduli akan keadaan yang
terjadi
→ Berdiam diri :
→ Mengakhiri diri
→ Terus berjuang
Di segala situasi seperti ini banyak
orang tidak tau harus berbuat apa , padahal
sesungguhnya disituasi seperti inilah orang harus berbuat sesuatu. kalau
kita mau keluar dari situasi yang tidak menyenangkan maka yang harus kita
lakukan adalah keluar dari situasi tersebut! Mis : kalau kita merasa kondisi
rumah tangga kita tidak berada di dalam damai sejahtera maka yang harus kita
lakukan adalah mencari jalan damai sejahtera itu/mencari jalan untuk keluar
dari kondisi yg tidak damai sejahtera itu, memulihkan kondisi seperti semula.
Karena bagaimanapun hidup adalah suatu
proses untuk mencapai suatu Tujuan, dan setiap proses akan mengalami suatu
perjalanan yang panjang dan di perjalanan yang panjang itu akan banyak yang
dialami seseorang untuk membuktikan ketahanan dan kesanggupan dalam proses
tersebut.
Bangsa Israel pernah mengalami situasi
seperti ini , mereka mengalami krisis
iman,krisis pengharapan
Dan merasa seolah olah hidup tidak punya
arti. Peristiwa tersebut terjadi ketika bangsa Israel akan dikembalikan secara
umum (ayat.2-22) dan Yehuda secara khusus (ay.23-26) kenegri kelahiran mereka
yakni Yerusalem. Umat Allah akan sekali lagi hidup bersama Dibawah berkat
Allah. Dalam nats ini jelas sekali dikatakan /diberitakan janji pembaharuan
tersebut kepada sisa-sisa bangsa Israel Allah mengikat perjanjianNya (2). Ada data
yang mencatat tentang pengembalian bangsa Israel yang dilakukan : tahun 722SM
oleh orang Asyur ,thn 605,597sm oleh orang Babel dan sampai saat ini proses
tersebut tetap berlangsung sampai saat ini sampai saatnya nanti semua kembali
(ay.8) ke Yerusalem.
Saudara…
Yang menjadi persoalan adalah : ketika proses pengembalian itu bangsa
Israel tidak berada di dalam pengharapan yang teguh . ketika kita
mengalami sebuah proses dari kehidupan yang Allah berikan Allah menginginkan
dari kita hanyalah “tetap” berpegang teguh pada pengharapan bahwa
setiap akhir dari sebuah proses tadi akan menghasilkan sesuatu yang indah
ketika kita berada dalam pengharapan.
“kupu kupu tidak akan menjadi kupukupu yang indah kalau dia tidak mau diprose
dari mulai kepompong,ulat kemudian baru menjadi kupukupu, demikian juga dengan
hidup kita. Bangsa Israel lupa bahwa Tuhan telah berjanji akan menyelamatkan
mereka, akan memperbaharui kehidupan mereka , akan membawa mereka kembali ketanah kelahiran mereka karena kasihNya yang kekal (3) dan komitmennya
kepada Abraham (Kej.15:7-21) dan dengan Israel (Kel.19:3-8;Ul.28:1-3).. janji
yang terus diperbaharui Allah, janji yang berasal dari kekekalan kembali kepada
kekekalan . Israel akan memiliki sukacita,damai sejahtera,kemakmuran dan
persekutuan yang baru di dalam Tuhan janji itu yang dilupakan bangsa Israel.
Saudara…
Siapa yang dapat mengukur kasih Allah ? Alkitab
kita merupakan sebuah pewahyuan atas fakta bahwa Allah adalah kasih. Ketika kita
mengkotbahkan keadilan itu adalah keadilan yang diimbangi dengan kasih ,ketika
kita mengkotbahkan Kebenaran itu adalah Kebenaran yang didirikan di atas kasih,
ketika kita mengkotbahkan penebusan dosa itu adalah penebusan yang dilakukan
karena kasih, bersumber pada kasih diselesaikan oleh kasih. Itulah Janji Allah
yang kekal.
Saudara…
Yeremia datang mengingatkan kembali
kepada bangsa Israel tentang janji tersebut. Dia mengatakan untuk menantikan
janji tersebut ada yang harus dilakukan oleh bangsa Israel tersebut yaitu :
1.
Bersorak
sorailah/bergembiralah (7)
Salah satu yang
menyebabkan seseorang bisa menang dalam pergumulan adalah ketika ada sukacita
(Filipi.4:4 :bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan), bagaimana mungkin bisa
bersukacita dalam pergumulan ? mengandalkan Tuhan (maz.127:1) jikalau bukan
Tuhan…so tidak ada alasan kita untuk tidak mempercayai kuasa Tuhan dan oleh
karenanya kita harus tetap bersukacita. Kalau kita baca epistel tadi
Maz,127:1-5 digambarkan dengan jelas dalam Nyanyian jiarah tersebut bahwa bangsa
Israel emngalami pengaaman yang cukup luar biasa digambarkan bahwa mereka harus
mendaki ,menuruni lembah dan mengalami banyak halangan dijalan semuanya itu
demi sebuah proses kehidupan yang lebih baik,kekcewaan /kegagalan mereka alami,
tetapi itulah konsekwensi dari proses tersebut. sama halnya dengan kita ,tetapi semuanya itu
dapat kita jalani ketika kita mengandaalkan Tuhan dalam sukacita kita
.Bersukacita didalam pengharapan adalah hal yang mutlak bagi orang percaya.
2.
Kabarkanlah
Janji
keselamatan itu harus diberitakan/dikabarkan kepada semua orang bahwa
keselamatan itu sudah/dan sedang kita nikmati . sama halnya dengan Nabi Yeremia
yang terus mengingatkan mengabarkan bahwa janji Tuhan itu bersifat kekal. Injil
keselamatan bukan hanya milik pribadi tetapi milik semua orang tanpa
terkecuali, dan oleh karenanya harus terus diberitakan. Caranya bagaimana ?
kabarkanlah ,melalui apa ? melalui pola hidup,tutur kata,sikap dan perbuatan
yang menjadi pujian kita kepada Allah. Kita hanya sisa-sisa Israel tetapi
kepada kita Alllah berjanji akan menyelamatkan kita oleh karena itu teruslah
beritakan InjilNya.
3.
Jadikan
Tuhan sebagai Bapa
Dalam proses
kehidupan ada banyak air mata yang akan keluar hal ini menandakan betapa
beratnya pergumulan itu, tetapi ketika Tuhan kita jadikan Bapa pelindung kita
maka janjiNya; Dia akan menghibur kita , dia akan memimpin kita kesungai sungai
yang jernih ,Dia akan membawa kita kejalan yang rata agar kita tidak tersandung
dan yang teristimewa kita akan dijadikan anakNya yang sulung. Itulah janjiNya
yang kekal itu.
Saudara…
Hidup adalah sebuah proses , sebagaimana
pemazmur dalam Nyanyian ziarahnya menekankan kepada kita bahwa perjalanan masih
panjang karena kita adalah pejiarah2 itu,dan dalam perjalanan tersebut kita
akan menemukan tantangan tantangan yang akan membuat kita belajar dalam proses
kehidupan tersebut sampai pada akhirnya kita berhenti atau sampai pada Tujuan yang
Allah berikan. Kuncinya hanya satu “Hidup beeerharap terus kepada Tuhan.” Oleh karena
itu ,jadikan Tuhan sebagai juru mudi dalam kehidupan kita,maka kita akan menang
dalam proses tersebut,amin.
-----------------gkps.kana.ckr.28/10/12------------------