Entri Populer

Rabu, 03 Oktober 2012

Pengakuan Diri

Banyak orang saat ini membicarakan tentang "tawuran" secara khusus tawuran anak sekolah. Sangking maraknya sampai sampai hampir setiap saat stasiun Tv, media cetak bahkan hampir setiap hari mengulasnya dan sudah barang tentu mdengan para pakar pakar yang super canggih dari berbagai bidangnya yang khusus menangani atau bahkan concern terhadap masalah ini. Tetapi pertanyaannya apakah selesai persoalan hanya dengan mendiskusikannya saja ? lalu bagaimana kelanjutannya ? apakah feedback nya kepada kita sebagai orang orang yang perduli akan karakter anak bangsa ini ? menurut saya hal ini tidak hanya sampai disini saja , yang harus kita telusuri adalah bagaimana kita sebagai orang yang prihatin (mungkin ada diantara kita yg memiliki anak dalam usia tersebut) dan dapat mencarikan solusi bahkan menerapkannya disekitar kita.. menurut hemat saya hal ini sudah multi kompleks ,tidak hanya dapat dilihat dari sudut psikologi pelaku dari tawuran itu sendiri, tetapi termasuk juga lingkungan sekolah , lingkungan rumah dalam hal ini orangtua bahkan lingkungan sekitar dimana anak anak tersebut bertumbuh. menurut pandangan Prof.Dr.Kommaruddin Hidayat dalam tulisanya di Seputar Indonesia, beliau mengatakan "terdapat sturuktur kejiwaan lain dalam theory archetype yang memeperngaruhi karakter seseorang untuk menjadi pelaku tawuran yang disebut Wanderer , yaitu : kecenderungan seseorang untuk menjadi pengelana,pengembara,penziarah atau senang keluyuran. Tetapi meskipun demikian apapun masalahnya sesungguhnya yang perlu dikaji ulang adalah bagaimana sistem Ahlak terhadap pertumbuhan psikolgi anak anak tersebut. Kenapa Tawuran menjadi sarana mereka mengekspresikan Wanderer mereka ? hal itu dengan mudah dijawab, karena mereka tidak memeiliki media yang mungkin dapat membuat mereka dengan bebas mengekspresikan apa yang ada dalam diri mereka . Media apakah yang mereka inginkan ? salah satu media yang mereka inginkan adalah pengakuan eksistensi mereka terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka disekitar mereka. Secara khusus di keluarga mereka . Hal ini yang seharusnya menjadi catatan penting, bahwa adanya  pengakuan diri itu penting, mengakui keberadaan mereka, mengakui kekurangan mereka bahkan mengakui kelebihan mereka di lingkungan keluarga mereka sendiri sehingga dengan demikian keluarga akan menjadi media pertama dalam pengembangan karakter diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar